This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Farmakologi dan Farmakoterapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Farmakologi dan Farmakoterapi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Desember 2010

Interaksi Obat dan Solusinya

Pengertian Interaksi Obat
Interaksi obat adalah kejadian di mana suatu zat mempengaruhi aktivitas obat. Efek-efeknya bisa meningkatkan atau mengurangi aktivitas, atau menghasilkan efek baru yang tidak dimiliki sebelumnya. Biasanya yang terpikir oleh kita adalah antara satu obat dengan obat lain. Tetapi, interaksi bisa saja terjadi antara obat dengan makanan, obat dengan herbal, obat dengan mikronutrien, dan obat injeksi dengan kandungan infus
Karena kebanyakan interaksi obat memiliki efek yang tak dikehendaki, umumnya innteraksi obat dihindari karena kemungkinan mempengaruhi prognosis. Namun, ada juga interaksi yang sengaja dibuat, misal pemberian probenesid dan penisilin sebelum penisilin dibuat dalam jumlah besar.
Contoh interaksi obat yang kini digunakan untuk memberikan manfaat adalah pemberian bersamaan karbidopa dan levodopa (tersedia sebagai karbidopa/levodopa). Levodopa adalah obat antiParkinson dan untuk menimbulkan efek harus mencapai otak dalam keadaan tidak termetabolisme. Bila diberikan sendiri, levodopa dimetabolisme di jaringan tepi di luar otak, sehingga mengurangi efektivitas obat dan malah meningkatkan risiko efek samping. Namun, karena karbidopa menghambat metabolisme levodopa di perifer, lebih banyak levodopa mencapai otak dalam bentuk tidak termetabolisme sehingga risiko efek samping lebih kecil.
Interaksi obat bisa ditimbulkan oleh berbagai proses, antara lain perubahan dalam farmakokinetika obat tersebut, seperti Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, dan Ekskresi (ADME) obat. Kemungkinan lain, interaksi obat merupakan hasil dari sifat-sfat farmakodinamik obat tersebut, misal, pemberian bersamaan antara antagonis reseptor dan agonis untuk reseptor yang sama.

Bagaimana interaksi obat terjadi?  
Ada beberapa mekanisme oleh obat yang berinteraksi dengan obat-obatan lain, makanan, dan bahan lainnya. Interaksi dapat terjadi apabila ada peningkatan atau penurunan dalam:
  1. penyerapan obat yang masuk ke dalam tubuh;
  2. distribusi obat dalam tubuh;
  3. perubahan yang dibuat pada obat oleh tubuh (metabolisme) ; dan
  4. penghapusan obat dari badan.
Sebagian besar hasil penting dari interaksi obat perubahan dari dalam penyerapan, metabolisme, atau penghapusan dari obat. Interaksi obat juga dapat terjadi bila dua obat yang sama (tambahan) efek atau berlawanan (membatalkan) efek bertindak bersama pada tubuh. Sumber lain dari interaksi obat terjadi ketika obat mengubah satu konsentrasi dari bahan yang biasanya hadir di dalam tubuh. Perubahan yang substansi ini mengurangi atau meningkatkan efek obat lain yang sedang diambil. Interaksi obat antara warfarin (Coumadin) dan vitamin K yang mengandung produk adalah contoh yang baik dari jenis interaksi. Warfarin bertindak dengan mengurangi konsentrasi bentuk aktif vitamin K didalam tubuh. Karena itu, bila vitamin K diambil, ia akan mengurangi efek warfarin.  

Perubahan dalam penyerapan
Kebanyakan obat-obatan yang diserap ke dalam darah dan kemudian pergi ke tempat tindakan mereka. Kebanyakan obat yang berinteraksi diubah karena penyerapan terjadi di usus. Terdapat berbagai potensi mekanisme melalui penyerapan obat-obatan dapat dikurangi. Mekanisme ini termasuk perubahan dalam aliran darah ke usus, metabolisme (perubahan dari obat) oleh usus, peningkatan atau penurunan pemindahan usus secara cepat (gerakan) di dalam usus, perubahan keasaman di dalam perut, dan perubahan dari bakteri usus. Penyerapan obat juga dapat dipengaruhi jika kemampuan obat untuk larut (solubility) diubah oleh obat lain, atau jika substansi (misalnya makanan) mengikati obat dan mencegah penyerapannya. 

Perubahan dalam metabolisme obat dan penghapusan 
Kebanyakan obat dihapuskan melalui ginjal baik dalam bentuk yang tidak berubah atau sebagai oleh-produk yang dihasilkan dari metabolisme (perubahan) dari obat oleh hati. Oleh karena itu, hati dan ginjal adalah tempat yang sangat penting yang berpotensi berinteraksinya obat. Beberapa obat dapat mengurangi atau meningkatkan metabolisme obat lain oleh hati atau penghapusan mereka oleh ginjal.
Metabolisme obat-obatan adalah proses yang melalui konversi tubuh (mengubah atau memodifikasi) obat ke dalam bentuk yang lebih mudah untuk tubuh menghilangkannya melalui ginjal. (Proses ini juga mengubah obat yang diberikan dalam bentuk yang tidak aktif  menjadi bentuk yang aktif yang sebenarnya menghasilkan efek yang dikehendaki.) Kebanyakan metabolisme obat berlangsung di hati, tetapi organ-organ lainnya juga dapat berperan (misalnya, ginjal). The cytochrome P450 enzymes adalah sekelompok enzim dalam hati yang bertanggung jawab atas sebagian besar metabolisme obat. Mereka, oleh karena itu sering terlibat dalam interaksi obat. Obat-obatan dan beberapa jenis makanan dapat meningkatkan atau menurunkan kegiatan enzim ini dan oleh karena itu akan mempengaruhi konsentrasi obat-obatan yang dimetabolis oleh enzim ini. Peningkatan dalam kegiatan enzim ini mengarah ke penurunan konsentrasi dan efek pada tindakan obat. Sebaliknya, penurunan dalam aktivitas enzim mengarah ke peningkatan konsentrasi obat dan efek. 

Apa konsekuensi dari interaksi obat? 
Interaksi obat dapat mengakibatkan peningkatan atau penurunan yang bermanfaat atau efek merugikan yang diberikan obat-obatan. Bila interaksi obat meningkatkan manfaat dari administratif obat tanpa meningkatkan efek samping, kedua obat dapat digabungkan untuk meningkatkan kontrol terhadap kondisi yang sedang dirawat. Misalnya, obat-obatan yang mengurangi tekanan darah oleh berbagai mekanisme yang berbeda dapat digabungkan karena efek menurunkan tekanan darah dicapai oleh kedua obat-obatan mungkin akan lebih baik dibandingkan dengan obat itu sendiri. Penyerapan beberapa jenis obat meningkat oleh makanan. Oleh karena itu, obat ini diambil dengan makanan dalam rangka untuk meningkatkan konsentrasi mereka didalam tubuh dan, pada akhirnya, mereka berpengaruh. Sebaliknya, bila penyerapan obat-obatan berkurang oleh makanan, maka obat diambil pada waktu perut kosong.
Interaksi obat yang paling banyak dikuatirkan adalah yang mengurangi dari efek yang diinginkan atau meningkatkan efek merugikan dari obat itu sendiri. Obat yang mengurangi penyerapan atau meningkatkan metabolisme atau penghapusan obat lainnya cenderung mengurangi efek dari obat yang lain. Hal ini dapat mengakibatkan kegagalan terapi atau memerlukan peningkatan dosis obat agar berpengaruh. Sebaliknya, obat-obatan yang meningkatkan penyerapan atau mengurangi eliminasi atau metabolisme obat lain yang meningkatkan konsentrasi obat-obatan lain di dalam tubuh dan menyebabkan lebih banyak efek samping. Terkadang, obat berinteraksi karena mereka menghasilkan efek samping yang serupa. Oleh karena itu, bila kedua obat yang menghasilkan efek samping yang sama digabungkan, frekuensi dan kerasnya dari efek samping yang meningkat. 

Seberapa sering terjadi interaksi obat? 
Interaksi obat adalah kompleks dan terutama yang tidak terduga. interaksi yang dikenal mungkin tidak terjadi di setiap individu. Hal ini dapat dijelaskan karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemungkinan bahwa terdapat  interaksi yang dikenal yang akan terjadi. Faktor-faktor tersebut termasuk perbedaan antara individu dalam fisiologi, usia, gaya hidup (diet, latihan), yang berpenyakit, dosis obat, lamanya terapi gabungan, dan waktu relatif dari administrasi dua zat. (Terkadang, interaksi dapat dihindari jika dua obat yang diambil pada waktu yang berbeda.) Namun demikian, interaksi obat yang signifikan sering terjadi dan mereka menambahkan jutaan dolar untuk biaya kesehatan. Selain itu, banyak obat telah ditarik dari pasar karena potensi untuk berinteraksi dengan obat lain dan menyebabkan masalah kesehatan serius.

Bagaimana interaksi obat dapat dihindari?
 
  1. Memberi penyedia layanan kesehatan daftar yang lengkap dari seluruh obat-obatan yang anda gunakan atau telah digunakan dalam beberapa hari lalu. Ini harus mencakup pengobatan over-the-counter, vitamin, makanan suplemen, dan herbal remedies.
  2. Memberitahu penyedia layanan kesehatan bila ada obat tambahan atau yang dihentikan.
  3. Memberitahu penyedia layanan kesehatan tentang perubahan gaya hidup.
  4. Bertanya kepada penyedia layanan kesehatan anda tentang hal yang paling serius atau seringnya interaksi obat dengan obat yang anda gunakan.
  5. Sejak frekuensi interaksi obat meningkat dengan sejumlah obat, bekerja sama dengan penyedia layanan kesehatan anda untuk menghilangkan obat yang tidak diperlukan.
  6. Laporan singkat mengenai interaksi obat ini tidak menutup kemungkinan setiap skenario. Pembaca tidak boleh takut untuk menggunakan obat karena potensi terjadinya interaksi obat. Sebaliknya, mereka harus menggunakan informasi yang tersedia bagi mereka untuk meminimalkan resiko interaksi seperti ini dan untuk meningkatkan keberhasilan terapi mereka.
 
Pengaruh Makanan dan Minuman Terhadap Obat
Hasil kerja obat di dalam tubuh kita memang sangat mungkin dipengaruhi oleh makanan atau minuman yang kita konsumsi. Ini dikenal sebagai peristiwa interaksi obat-makanan. Selain dengan makanan, berbagai obat yang kita konsumsi pada saat bersamaan juga dapat saling berinteraksi satu sama lain. Interaksi obat-makanan (food-drug interaction) atau interaksi antarobat (drug interaction) ini dapat mengurangi khasiat atau kemanjuran obat, bahkan dapat menimbulkan efek yang membahayakan pasien.

Lalu, apakah ada makanan yang mengurangi efektivitas obat?
Teh, kopi, susu, tape, atau makanan apa saja yang kita makan berpotensi untuk mengadakan interaksi dengan obat yang kita konsumsi. Sebab itu, minum obat sebaiknya dengan air putih saja, kecuali untuk obat-obat tertentu.
Teh mengandung senyawa tannin yang dapat mengikat berbagai senyawa aktif obat sehingga sukar diabsorpsi atau diserap dari saluran pencernaan. Demikian pula susu. Susu mempunyai sifat dapat menghambat absorpsi zat-zat aktif tertentu terutama antibiotika. Jika obat kurang diabsorbsi, berarti daya khasiat atau kemanjurannya juga akan berkurang. Sehingga penyembuhan mungkin tidak akan tercapai.
Karena itu, jika Anda sedang mengonsumsi antibiotika, misalnya ampisilin, amoksilin, kloramfenikol dan lain-lain, sebaiknya Anda jangan minum susu, apalagi minum obat antibiotika tersebut bersama dengan susu. Jika Anda ingin minum susu juga, sebaiknya tunggu sekitar dua jam setelah atau sebelum minum antibiotika, agar penyerapan obat antibiotika tersebut di saluran pencernaan tidak terganggu.
Tidak semua jenis obat tidak baik dikonsumsi bersama-sama dengan susu. Ada beberapa obat, terutama yang bersifat mengiritasi lambung, justru dianjurkan untuk diminum bersama susu atau pada waktu makan. Gunanya agar susu atau makanan tersebut dapat mengurangi efek iritasi lambung dari obat yang dikonsumsi. Walaupun susu atau makanan dapat sedikit mengurangi daya kerja obat-obat tersebut, namun efek perlindungannya terhadap iritasi lambung lebih bermanfaat dibandingkan dengan efek penurunan daya kerja obat yang sangat sedikit.
Obat-obat seperti ini, contohnya obat-obat antiinflamasi nonsteroid seperti asetosal dan ibuprofen, yang biasa diberikan untuk meredakan atau mengurangi rasa sakit, nyeri, atau demam. Begitu juga obat-obat kortikosteroid yang biasanya digunakan untuk meredakan inflamasi (misalnya bengkak atau gatal-gatal) seperti prednison, prednisolon, metilprednisolon, dan lain-lain.
Bagaimana dengan kopi? Kopi, sebagaimana kita ketahui, mengandung kafein. Kafein bekerja merangsang susunan syaraf pusat. Jadi, agar efek stimulan terhadap susunan syaraf pusat tidak berlebihan, hindari mengkonsumsi bahan-bahan yang mengandung kafein seperti kopi, teh, coklat, minuman kola, dan beberapa merek minuman berenergi (energy drink) ketika Anda sedang dalam pengobatan menggunakan obat-obat yang juga dapat merangsang susunan syaraf pusat seperti obat-obat asma yang mengandung teofilin atau epinefrin.
Walaupun sebagian besar rakyat Indonesia bukan peminum alkohol, patut juga disampaikan disini bahwa ketika Anda minum obat sebaiknya sama sekali berhenti minum alkohol. Alkohol mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap fisiologis tubuh sehingga dapat mengganggu atau bahkan mengubah respons tubuh terhadap obat yang diberikan. Contohnya, obat-obat antihistamin atau antialergi (biasanya diberikan untuk meringankan gejala alergi, flu atau batuk) umumnya menyebabkan mengantuk. Konsumsi antihistamin bersama dengan alkohol akan menambah rasa kantuk dan memperlambat performa mental dan motorik.
Alkohol juga akan meningkatkan risiko perdarahan lambung dan kerusakan hati jika dikonsumsi bersama obat-obat penghilang rasa sakit seperti parasetamol atau asetaminofen. Alkohol juga dilarang diminum bersama dengan obat-obat penurun tekanan darah tinggi golongan beta-blocker seperti misalnya propranolol. Kombinasi alkohol-propranolol dapat menurunkan tekanan darah secara drastis dan membahayakan keselamatan jiwa pasien. Tape, walaupun sedikit, sudah kita ketahui mengandung alkohol, terutama tape ketan atau tape beras. Oleh sebab itu sebaiknya kurangi atau hindari makan tape ketika Anda mengkonsumsi obat-obat yang dapat berinteraksi dengan alkohol seperti yang diuraikan di atas.

Sebelum, saat atau setelah makan?
hal lain yang perlu diperhatikan adalah kapan anda boleh meminum obat; setelah makan, sebelum makan atau pada saat makan?
Beberapa obat yang mempunyai efek iritasi pada saluran cerna hendaknya digunakan setelah makan atau pada saat makan. Pada umumnya, obat-obat yang berkhasiat sebagai penghilang rasa sakit, atau disebut analgesik, mempunyai efek iritasi tersebut.
Obat-obat lain justru diberikan untuk mencegah iritasi akibat adanya makanan, contohnya ialah antasida. Untuk obat jenis ini akan lebih diutamakan jika diminum sebelum makan. Ada pula obat yang dapat berinteraksi dengan komponen-komponen dalam makanan yang beraneka ragam. Dan perlu anda ketahui, bahwa respon setiap individu terhadap obat dapat sangat bervariasi. Kebiasaan hidup, pola makan, aktivitas sehari-hari adalah hal-hal yang sangat berpengaruh terhadap kerja obat dalam tubuh.
Pengaruh makanan atau minuman terhadap obat dapat sangat signifikan atau hampir tidak berarti, bergantung pada jenis obat dan makanan/minuman yang kita konsumsi. Selain itu harus pula difahami bahwa sangat banyak faktor lain yang mempengaruhi interaksi ini, antara lain dosis obat yang diberikan, cara pemberian, umur, jenis kelamin, dan tingkat kesehatan pasien. Apa yang diuraikan dalam ruangan ini baru sebagian kecil saja dari pengaruh interaksi obat-makanan terhadap pengobatan yang kita jalani. Untuk penjelasan lebih rinci, jangan ragu-ragu untuk bertanya langsung kepada dokter atau apoteker di apotek.

Bilamana dua atau lebih obat yang diambil secara bersamaan, ada kemungkinan akan ada sebuah interaksi di antara obat-obatan tersebut. Interaksi dapat meningkatkan atau menurunkan efektivitas dan / atau efek samping dari obat. Hal ini juga dapat mengakibatkan efek samping yang baru, yaitu efek samping yang tidak terlihat dengan menggunakan salah satu obat itu sendiri. Kemungkinan interaksi obat meningkat sebagai jumlah obat yang diambil oleh pasien meningkat. Oleh karena itu, orang-orang yang mengambil beberapa jenis obat untuk pengobatan merupakan resiko besar untuk interaksi. Interaksi obat berkontribusi pada biaya kesehatan yang disebabkan oleh biaya perawatan medis yang diperlukan untuk merawat mereka. Interaksi juga dapat mengakibatkan rasa sakit dan penderitaan yang dapat dihindarkan. Bulan ini dari topik membahas masalah interaksi obat dan beberapa cara untuk menghindari mereka.

Selasa, 14 Desember 2010

Asuhan Kebidanan Diare


BAB I
PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang
Perkembangan nasional dibidang kesehatan bertujuan untuk mencapai kemampuan untuk hidup sehat, bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
Untuk mewujudkan kesehatan masyarakat secara optimal diperlukan peran serta masyarakat dan sumber daya masyarakat sebagai modal dasar dalam pembangunan nasioal, termasuk keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat.
Dalam upaya mewujudkan kesehatan masyarakat terutama dalam mencegah angka kematian ibu dan anak pemerintah mencanangkan program safe methorhood yang berupa 6 pilar sebagai realisasi kerja, antara lain :
1. Pelayanan keluarga berencana
2. Asuhan antenatal
3. Persalinan bersih dan aman
4. Pelayanan obsetrik neonatal
5. Pelayanan kesehatan dasar
6. Pelayanan kesehatan primer dengan pemberdayaan wanita
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarkat dimana masalah kesehatan dapat timbul, berupa masalah KIA/KB, KELING.
Dalam hal ini penulis mengambil kasus pada keluarga Tn. S pada RT. 01 RW. 02 Desa Kemanggungan Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal sebagai bukti pelaksanaan praktek kebidanan komunitas dan melaksanakan implementasi sesuai dengan prioritas masalah. 

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Membantu masyarakat dalam mengupayakan hidup sehat sehingga mencapai derajat kesehatan yang optimal.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi masalah kesehatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak pada keluarga.
b. Menemukan masalah yang ada dan memprioritaskannya
c. Merumuskan berbagai alternatif pemecahan maasalah
d. Implementasi hasil rumusan alternatif pemecahan masalah
e. Mendorong dan meningkatkan kesadaran serta partisipasi keluarga dalam upaya mendorong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan, serta menanamkan perilaku hidup sehat
C. Metode
Dalam penyusunan laporan ini penulis menggunakan metode deskriptif analitik yang menggunakan metode wawancara dan pendataan.
D. Sistematika Penulisan
Dalam penyusunan laporan ini terdiri dari 5 Bab, adapun sistematika penulisan dari masing-masing Bab, sebagai berikut :
1. BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penulisan
C. Metode
D. Sistematika Penulisan
2. BAB II : LANDASAN TEORI
A. Konsep Komunitas
B. Konsep Keluarga
C. Masalah Utama
3. BAB III : TINJUAN KASUS
A. Pengkajian
B. Intervensi
4. BAB IV : PEMBAHASAN
5. BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran 

BAB II
LANDASAN TEORI 

A. Konsep Kebidanan Komunitas
Konsep adalah kerangka ide yang mengandung suatu pengertian tertentu. Kebidanan berasal dari kata “Bidan” yang artinya adalah seseorang yang telah mengikuti pendidikan tersebut dan lulus serta terdaftar atau mendapat ijin melakukan praktek kebidanan.
Sedangkan kebidanan sendiri mencakup pengetahuan yang dimiliki bidan dan kegiatan pelayanan yang dilakukan untuk menyelamatkan ibu dan bayi yang dilahirkan (J.H. Syahlan, 1996).
Komunitas adalah kelompok orang yang berada di suatu lokasi tertentu. Sarana kebidanan komunitas adalah ibu dan anak balita yang berada dalam keluarga dan masyarakat. Pelayanan kebidanan komunitas dilakukan diluar rumah sakit. Kebidanan komunitas dapat juga merupakan bagian atau kelanjutan pelayanan kebidanan yang diberikan di rumah sakit. Pelayanan kesehatan ibu dan anak di lingkungan keluarga merupakan kegiatan kebidanan komunitas.
Kelompok komunitas terkecil adalah keluarga individu yang dilayani adalah bagian dari keluarga atau komunitas. Oleh karena itu, bidan tidak memandang pasiennya dari sudut biologis. Akan tetapi juga sebagai unsur sosial yang memiliki budaya tertentu dan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan lingkungan disekelilingnya.
Dapat ditemukan disini bahwa unsur-unsur yang tercakup didalam kebidanan komunitas adalah bidan, pelayanan kebidanan, sasaran pelayanan, lingkungan dan pengetahuan serta teknologi.
Asuhan kebidanan komunitas adalah merupakan bagian integral dari system pelayanan kesehatan, khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu, anak dan Keluarga Berencana.
B. Manajemen Kebidanan Komunitas
Dalam memecahkan masalah pasiennya, bidan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan.
Manajemen kebidananan adalah metode yang digunakan oleh bidan dalam menentukan dan mencari langkah-langkah pemecahan masalah serta melakukan tindakan untuk menyelematkan pasiennya dari gangguan kesehatan.
Penerapan manajemen kebidanan melalui proses yang secara berurutan yaitu identifikasi masalah, analisis dan perumusan masalah, rencana dan tindakan pelaksanaan serta evaluasi hasil tindakan. Manajemen kebidanan juga digunakan oleh bidan dalam menangani kesehatan ibu, anak dan KB di komuniti, penerapan manajemen kebidanan komuniti (J.H. Syahlan, 1996).
1. Identifikasi masalah
Bidan yang berada di desa memberikan pelayanan KIA dan KB di masyarakat melalui identifikasi, ini untuk mengatasi keadaan dan masalah kesehatan di desanya terutama yang ditujukan pada kesehatan ibu dan anak. Untuk itu bidan melakukan pengumpulan data dilaksanakan sccara langsung ke masyarakat (data subyektif) dan data tidak langsung ke masyarkaat (data obyektif)
a. Data Subyektif
Data subyektif diperoleh dari informasi langsung yang diterima dai masyarakat. Pengumpulan data subyektif dilakukan melalui wawancara. Untuk mengetahui keadaan dan masalah kesehatan masyarakat dilakukan wawancara terhadap individu atau kelompok yang mewakili masyarakat.
b. Data Obyektif
Data obyektif adalah data yang diperoleh dari observasi pemeriksaan dan penelaahan catatan keluarga, masyarakat dan lingkungan. Kegiatan dilakukan oleh bidan dalam pengumpulan data obyektif ini ialah pengumpulan data atau catatan tentang keadaan kesehatan desa dan pencatatan data keluarga sebagai sasaran pemeriksaan.
2. Analisa dan perumusan masalah
Setelah data dikumpulkan dan dicatat maka dilakukan analisis. Hasil analisis tersebut dirumuskan sebagai syarat dapat ditetapkan masalah kesehatan ibu dan anak di komuniti.
Dari data yang dikumpulkan, dilakukan analisis yang dapat ditemukan jawaban tentang :
a. Hubungan antara penyakit atau status kesehatan dengan lingkungan keadaan sosial budaya atau perilaku, pelayanan kesehatan yang ada serta faktor-faktor keturunan yang berpengaruh terhadap kesehatan. (H.L. Blum).
b. Masalah-masalah kesehatan, termasuk penyakit ibu, anak dan balita
c. Masalah-masalah utama ibu dan anak serta penyebabnya
d. Faktor-faktor pendukung dan penghambat
Rumusan masalah dapat ditentukan berdasarkan hasil analisa yang mencakup masalah utama dan penyebabnya serta masalah potensial.
3. Diagnosa potensial
Diagnosa yang mungkin terjadi
4. Antisipasi penanganan segera
Penanganan segera masalah yang timbul
5. Rencana (intervensi)
Rencana untuk pemecahan masalah dibagi menjadi tujuan, rencana pelaksanaan dan evaluasi.
6. Tindakan (implementasi)
Kegiatan yang dilakukan bidan di komunitas mencakup rencana pelaksanaan yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
7. Evaluasi
Untuk mengetahui ketepatan atau kesempurnaan antara hasil yang dicapai dengan tujuan yang ditetapkan.
C. Konsep Dasar Keluarga
1. Pengertian keluarga
Keluarga adalah unit terkecil masyarakat, terdiri atas 2 orang atau lebih adanya ikatan perkawinan dan pertalian darah, hidup dalam satu rumah tangga dibawah asuhan seorang kepala rumah tangga berinteraksi diantara sesama anggota keluarga, setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing, menciptakan, mempertahankan suatu kebudayaan. (Depkes. RI. 1998 dan Salvicion G Bailon dan Aracelis Maglaya, 1989).
2. Struktur keluarga
a. Patrilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara, seadarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.
b. Matrilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
c. Matrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri.
d. Patrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.
e. Keluarga kawinan
Adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.
3. Ciri-ciri struktur keluarga
a. Terorganisasi
b. Ada keterbatasan
c. Ada perbedaan dan kekhususan
4. Ciri-ciri keluarga
a. Diikat dalam suatu tali perkawinan
b. Ada hubungan darah
c. Ada ikatan batin
d. Ada tanggung jawab masing-masing anggotnya
e. Ada pengambilan keputusan
f. Kerjasama diantara anggota keluarga
g. Komunikasi interaksi antar anggota keluarga
h. Tinggal dalam satu rumah
5. Ciri-ciri keluarga Indonesia
a. Suami sebagai pengambil keputusan
b. Merupakan suatu kesatuan yang utuh
c. Berbentuk monogram
d. Bertanggung jawab
e. Pengambil keputusan
f. Meneruskan nilai-nilai budaya bangsa
g. Ikatan kekeluargaan sangat erat
h. Mempunyai semangat gotong royong
6. Tipe/bentuk keluarga
a. Keluarga inti (nuclear family)
Adalah keluarga terdiri dari satu ayah, ibu dan anak-anak.
b. Keluarga besar (exended family)
Adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.
c. Keluarga berantai (sereal family)
Adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
d. Keluarga duda/ janda (single family)
Adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
e. Keluarga berkomposisi (composite)
Adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami yang hidup secara bersama.
f. Keluarga kabitas (cahabitation)
Adalah dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.
Tipe keluarga Indonesia umumnya menganut tipe keluarga besar (extended family) karena masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku hidup dalam suatu komuniti dengan adat istiadat yang sangat kuat.
7. Perawatan kesehatan keluarga
Adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau satu kesatuan yang dirawat dengan sehat sebagai tujuan dan melalui perawatan sebagai sasaran.
D. Masalah Utama (Diare)
1. Pengertian
a. Diare adalah bentuk kotoran anak yang semula padat berubah menjadi lembek atau cair dan buang air besar 3 kali atau lebih 24 jam (Buku KIA)
b. Diare adalah buang air besar (DEFEKASI) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100 – 200 ml/ jam tinja dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat) dapat pula disertai frekuensi defkasi yang meningkat (Kapita Selecta Kedokteran Jilid 1 : 501)
c. Diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari 3 kali sehari (WHO, 1980)
2. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala anak mederita penyakit diare adalah
a. Buang air besar encer atau cair 3 kali atau lebih dalam 24 jam
b. Tidak ada darah dalam BAB
3. Cara Pencegahan dan Penanganan Diare
a. Cara Pencegahan Diare
1) Pemberian hanya ASI saja pada bayi sampai usia 4 – 6 bulan
2) Mencuci tangan dengan sabun setelah berak dan sebelum memberi makan anak
3) Menggunakan jamban dan menjaga kebersihannya
4) Pembuangan tinja anak ditempat yang benar
5) Makanan dan minuman menggunakan air matang
b. Cara Penanganan Diare
1) Perbanyak pemberian minuman misalnya ASI, air matang, air syur, oralit
Cara pemberian oralit dan takarannya
Masukkan 1 bungkus oralit kedalam 1 gelas air (200 cc) yang sudah dimasuk atau air minum dan aduk sampai rata
2) ASI tetap diberikanterutamapada bayi untuk anak yang tidak menetek. Pemberian makanan lunak tetap diteruskan
3) Segera dibawa ke petugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam 3 hari atau bila ada tanda-tanda :
a} Buang air besar encer berkali-kali
b} Muntah berulang-ulang
c} Rasa haus yang nyata
d} Demam
e} Makan / minum sedikit
f} Darah dalam tinja

ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS PADA KELUARGA TN. S
Tanggal : 15 Februari 2008
Waktu : 16.00 WIB
Tempat : Rumah Tn. S
I. Pengkajian
A. Data Umum
1. Identitas Kepala Keluarga
Nama : Tn. S
Umur : 33 tahun
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa/ Indonesia
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Wiraswasta
Status perkawinan : Kawin
Alamat : RT. 01 RW. 02 Desa Kemanggungan Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal
2. Susunan Keluarga
Nama
Umur
L/P
Status
Penddkn
Pekerjaan
Agama
Keadaan
Herlina
Syahril
Aji Nur Ismail
25 th
5 th
1 th
P
L
L
Istri
Anak
Anak
SMA
TK
-
IRT
-
-
Islam
Islam
Islam
Sehat
Sehat
Diare
Genogram



Tipe keluarga ini adalah keluarga inti, yang paling dominan dalam mengambil keputusan adalah ayah sebagai kepala keluarga. Hubungan dalam keluarga harmonis.
3. Kegiatan Sehari-hari
a. Kebiasaan tidur/ istirahat
1) Ayah tidak pernah tidur siang karena bekerja, malam dapat istirahat cukup
2) Ibu tidak pernah siang, malam dapat istirahat cukup
3) Anak-anak siang mesti tidur, malam istirahat cukup
b. Kebiasaan makan dan minum
Seluruh anggota keluarga makan 3 kali/hari dengan makanan pokok nasi ditambah lauk pauk (tahu, tempe, kadang-kadang telur dan ikan) serta sayur sayuran jarang diselang-seling dengan buah-buahan, anak-anak sudah diberikan makan pengganti ASI yaitu pisang.
c. Penggunaan waktu senggang
Penggunaan waktu senggang oleh ibu digunakan untuk membersihkan rumah dan mengurus keluarganya. Ibu kurang aktif mengikuti kegiatan pengajian ataupun yang lainnya.
4. Situasi sosial budaya dan ekonomi
a. Penghasilan suami tiap bulan tidak tetap tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keperluan belanja keluarga menjadi tanggung jawab ibu dan istri.
b. Hubungan keluarga dengan masyarakat sekitar baik.
5. Situasi lingkungan
a. Perumahan
Rumah milik sendiri. Jenis rumah permanen, atap dari genting lantainya ubin. Kebersihan rumah kurang, ventilasi cukup, pencahayaan cukup, penerangan rumah pada malam hari menggunakan listrik dan tidak ada cerobong asap.
b. Sumber air minum
Menggunakan sumur gali, keadaan air jernih, tidak berbau dan tidak berasa.
c. Tempat pembuangan tinja
Keluarga mempunyai jamban pribadi, namun kondisi jamban tidak terpelihara.
d. Pembuangan sampah
Sampah dibuang di tempat yang terbuka, di pinggir sungai.
6. Status kesehatan keluarga
a. Bila ada anggota keluarga yang sakit dibawa ke puskesmas
b. Imunisasi kurang lengkap
c. KB : Ibu ikut KB suntik
d. Riwayat persalinan
Anak yang pertama dan kedua ditolong oleh bidan
e. Keadaan gizi keluarga
Pertumbuhan fisik keluarga Tn. S cukup, berat badan umumnya sesuai dengan usia anak, secara sepintas anak tampak sehat.
f. Penyakit yang pernah diderita
Untuk sebelumnya anaknya Tn. S juga menderita diare
g. Pengetahuan ibu
Ibu mengerti cara mengobati diare dengan obat tradisional
i. Analisa Data
Dari analisa data masalah kesehatan yang dialami keluarga adalah lingkungan yang kurang bersih (tidak adanya cerobong asap) didukung oleh sosial ekonomi yang masih rendah dan kurangnya pengetahuan tentang kesehatan. Faktor ini dapat berpengaruh terhadap status kesehatan keluarga itu. Hal ini bisa dilihat pada anaknya yang menderita diare.
Dalam hal ini bidan perlu memberikan perawatan dan penyuluhan tentang diare maupun kesehatan lingkungannya.
ii. Perumusan Masalah
Dari hasil analisa data timbul masalah pada keluarga yang disebabkan ketidaktahuan keluarga dalam masalah kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Kebersihan lingkungan
2. Diare
iii. Prioritas Masalah
Untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh keluarga Tn. S maka perlu dilakukan prioritas masalah yang ada sesuai dengan metode Hanlon kualitatif dengan USG (Urgency/mendesak, Seriuousness/kegawatan, Growth/ perkembangan).
1. Kesehatan lingkungan (kebersihan)
No
Kriteria
Perhitungan
Skor
Pembenaran
1.
Sifat Masalah
2/3 x 1
2/3
Ancaman kesehatan
2.
Kemungkinan masalah dapat dirubah
½ x 2
1
Adanya kemuan dari keluarga untuk menciptakan lingkungna yang bersih
3.
Potensi pencegahan
1/3 x 1
1/3
Dengan penyuluhan tidak menjamin dapat merubah perilaku tersebut
4.
Penonjolan masalah
0/2 x 1
0
Keluarga tidak menyadari bahwa kebersihan lingkungan berpengaruh terhadap status kesehatan keluarga
Total skor
2
2. Diare
U S G
M
1
2
TH
M
1
2
TH
M
1
2
TH
1
-
0
1
-
0
1
-
0
2
0
2
0
2
0
TV
0
1
TV
0
1
TV
0
1
TH
0
0
TH
0
0
TH
0
0
T
0
1
T
0
1
T
0
1
Diare Diare Diare
Dari perhitungan diatas maka prioritas masalah yang harus diintervensi adalah :
2. Diare
3. Kebersihan lingkungan 

ASUHAN KEBIDANAN PADA AN. A
DENGAN DIARE DEHIDRASI RINGAN
Tanggal : 17 Februari 2008
Waktu : 19.00 WIB
Tempat : di Rumah Tn. S
I. PENGUMPULAN DATA
B. Data Subyektif
1. Biodata
Nama anak : An. A
Umur : 1 bln
Jenis kelamin : perempuan
Nama Ibu : Ny. H Nama Bapak : Tn. S
Umur : 25 Th Umur : 32 Th
Agama : Islam Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa Suku bangsa : Jawa
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMP
Penghasilan : – Penghasilan : tidak tetap
Status perkawinan : Syah perkawinan ke : 1
Lama perkawinan : 7 Th
Alamat : Kemanggungan RT.01 RW. 02 Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan anaknya BAB 3x sehari dengan konsistensi cair sejak 1 hari yang lalu.
3. Riwayat kesehatan sekarang
- Ibu mengatakan anaknya tidak menderita penyakit kelainan darah seperti hemofilia
- Ibu mengatakan anaknya tidak menderita penyakit kelainan congenital
- Ibu mengatakan anaknya tidak menderita penyakit infeksi kronis seperti TBC
- Ibu mengatakan anaknya tidak menderita penyakit keturunan seperti Diabetes Mellitus
- Ibu mengatakan anaknya tidak menderita retradasi mental.
4. Imunisasi yang didapat
- BCG : 1 kali – Polio : 4 kali
- Hepatitis : 3 kali – Campak : belum
- DPT : 3 kali
5. Pola kebutuhan sehari-hari
Sebelum Sakit
Selama Sakit
§ Pola Nutrisi
Makan : 3x/ hari
Porsi : 1 porsi kecil habis
Jenis : ASI + makanan tambahan
Gangguan : tidak ada
Minum :
Jenis : ASI, air putih
Gangguan : tidak ada
§ Pola Nutrisi
Makan : 3 x/ hari
Porsi : 1 porsi kecil tidak habis
Jenis : ASI, bubur
Gangguan : sulit makan
Minum :
Jenis : ASI, air putih
Gangguan : tidak ada
§ Pola eliminasi
BAB : 1 kali/ hari
Konsitensi : lunak
Warna : kuning kecoklatan
Gangguan : tidak ada
BAK : 5 x/ hari
Warna : kuning jernih
Gangguan : tidak ada
§ Pola eliminasi
BAB : > 3 x/ hari
Konsitensi : cair
Warna : kuning
Gangguan : Diare
BAK : 4 – 5x/ hari
Warna : kuning jernih
Gangguan : tidak ada
§ Pola Istirahat
Tidur siang : + 1 jam
Tidur malam : + 9 jam
Gangguan : tidak ada
§ Pola Istirahat
Tidur siang : : + 1 jam
Tidur malam : 8 jam
Gangguan : anak rewel
6. Faktor sosial budaya
Ibu mengatakan tidak menganut adat istiadat setempat yang mempengaruhi perkembangan anak
7. Kemampuan anak
Motorik Kasar : Berjalan sendiri tanpa jatuh
Motorik Halus : Mencoret-coret dengan alat tulis
Bahasa : Mengungkapkan keinginan secara sederhana
Perilaku Sosial : Menunjuk bagian tubuh dan menyebut namanya
C. Data Obyektif
1. Pemeriksaan fisik
a. Kesadaran : composmentis
b. Keadaan umum : sedang
- Tanda-tanda vital
Suhu : 37 oC
Nadi : 92 x/ menit
Respirasi : 30 x/ menit
c. Pemeriksaan antopometri
BB : 9,5 kg LIKA : 40 cm
PB : 70 cm LILA : 10 cm
d. Kepala-leher
Kepala : mesochepal
Muka : simetris, tidak oedema
Mata : simetris
Mulut : simetris, mulut/bibir kering, tidak ada stomatitis, gigi susu sudah tumbuh 1 buah
Hidung : simetris, tidak ada polip, tidak ada secret dan epitaksis
Telinga : simetris, tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada secret
Kulit : kering, turgor baik
Leher : tidak ada pembesaran pada kelenjar tyroid
Aksila : tidak ada pembesaran pada kelenjar limfe
e. Thorax anterior
Simetris, tidak ada retraksi sternal
f. Abdomen anterior
Tidak ada pembesaran hati dan limpa
g. Genetalia
Sesuai dengan jenis kelamin laki-laki festis sudah turun
h. Anus
Berlubang, kemerahan, BAB > 3x/hari dengan konsistensi cair
i. Ekstermitas atas dan bawah
Simetris, tidak ada oedema, dapat digerakkan bebas
2. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium : tidak dilakukan
Rontgen : tidak dilakukan
USG : tidak dilakukan
II. INTERPRETASI DATA
a. Diagnosa Nomenklatur
An. A umur 1 tahun jenis kelamin laki-laki dengan DIARE
Data dasar:
Data S:
· Ibu mengatakan anaknya bernama “A” umur 1 tahun, jenis kelamin laki-laki.
· Ibu mengatakan anaknya batuk, pilek, sulit makan dan disertai demam (kadang-kadang)
Data O
· Keadaan umum : sedang
· Kesadaran : composmentis
· Tanda-tanda vital :
Suhu : 37 0C
Nadi : 92 x/ menit
Respirasi : 30 x / menit
· Bibir : kering
· Anus : kemerahan, BAB > 3x/hari dengan konsistensi cair
b. Diagnosa Masalah
Gangguan eliminasi dengan adanya keluhan BAB > 3x/hari dengan konsistensi cair.
c. Diagnosa Kebutuhan
Penyuluhan tentang diare dan support mental pada keluarga.
III. DIAGNOSA POTENSIAL
Potensial terjadi diare dengan dehidrasi berat.
IV. ANTISIPASI PENANGANAN SEGERA
Amati tanda bahaya terjadinya dehidrasi berat.
1. Mata cekung
2. Demam
3. Anak tidak mampu minum, turgor kulit kurang
4. Sakit anak menjadi parah
V. INTERVENSI
1. Beritahu ibu dan keluarga tentang keadaan anaknya sekarang
2. Beritahu ibu dan keluarga agar tidak memberikan obat-obatan dari warung
3. Beritahu ibu dan keluarga untuk memberikan obat dari Nakes pada anaknya apabila demam/kompres air hangat
4. Beritahu ibu dan keluarga agar tidak memberikan makanan pendamping ASI sampai bayinya berumur 6 bulan
5. Beritahu ibu dan keluarga tanda diare dan dehidrasi berat
6. Anjurkan ibu dan keluarga memeriksakan anaknya ke puskesmas
VI. IMPLEMENTASI
1. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa anaknya menderita diare jadi ibu tidak perlu khawatir tapi harus segera diberikan penanganan
2. Memberitahu ibu dan keluarga agar tidak memberikan obat-obatan dari warung karena diare akan sembuh
3. Memberitahu ibu dan keluarga untuk memberikan obat dari Nakes apabila anaknya demam/mengompres dengan air hangat
4. Memberitahu ibu dan keluarga agar tidak memberikan makanan pendamping ASI seperti pisang sampai anaknya berumur 6 bulan, cukup diberikan ASI saja secara on demand
5. Memberitahu ibu dan keluarga agar anaknya banyak minum air putih agar tidak dehidrasi.
6. Memberitahu ibu dan keluarga bahaya diare.
- penderita akan kehilangan cairan tubuh
- penderita tersebut menjadi lesu dan lemas
- penderita dapat meninggal bila kehilangan cairan tubuh lebih banyak lagi
7. Menganjurkan ibu dan keluarga untuk memeriksakan anaknya ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan segera.
VII. EVALUASI
1. Ibu dan keluarga mengerti penjelasan yang sudah disampaikan.
2. Ibu dan keluarga mengatakan tidak memberikan obat warung.
3. Ibu dan keluarga mengatakan mau memberikan obat pada anaknya, obat yang diberikan oleh Nakes saja.
4. Ibu dan keluarga bersedia untuk tidak memberikan makanan pendamping ASI sampai bayinya berumur 6 bulan.
5. Ibu dan keluarga tahu bahaya diare.
6. Ibu dan keluarga mau membawa anaknya ke puskesmas untuk memeriksakan kondisi anaknya. 

BAB IV
PEMBAHASAN
Setelah dilakukan studi kasus asuhan kebudanan komunitas keluarga Tn. S pada An. A dengan keluhan utama BAB cair lebih dari 3x sehari di RT. 01 RW. 02 Desa Kemanggungan Kecamatan Tarub Kabupaten Tegal antara teori yang telah didapat dengan praktik ada kesenjangan. 

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah penulis melakukan studi kasus asuhan kebidanan komunitas dan mengadakan pembinaan kesehatan pada keluarga Tn. S dapat ditarik kesimpulan bahwa status kesehatan keluarga Tn. S kurang baik dan kesehatan atau kebersihan lingkungannya belum tercapai. 

B. Saran
  1. Diharapkan ada peningkatan kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap anggota keluarga yang sakit dan dalam mengatasi masalah kesehatan anggota keluarganya.
  2. Dapat meningkatkan kemampuan keluarga dalam menanggulangi masalah kesehatan dasar dalam keluarga.
  3. Diadakan kebersihan lingkungan 1 minggu sekali untuk meningkatkan kesehatan lingkungan
DAFTAR PUSTAKA 
  1. Effendy Nasrul. 1998. Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC.
  2. Depkes RI. 2000. Standar Pelayanan Kebidanan. Jakarta.
  3. Soekidjo, Notoatmodjo. 1997. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta.